Khittah NU 1926

Isu pengembalian NU menjadi organisasi sosial keagamaan sudah mulai muncul sejak tahun 1971, sejak upaya-upaya Orde Baru semakin menelikung kekuatan kelompok Islam. Upaya ini semakin mengental pada Muktamar NU pada tahun 1979, di mana muncul dua isu utama yang mendominasi, pertama, kembali ke khittah NU, dan kedua, penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi. Isu ini terus menggelindingi sangat kuat sampai kemudian disepakati dalam Munas NU di Situbondo pada tahun 1983, (KH. Muchid Muzadi, Ceramah, 27-29 Juli 2002). Selama periode 1979-1984 adalah masa-masa penurunan kharisma dari KH. Idham Chalid yang selama dua dekade (dari tahun 1956) telah memimpin NU. Pada Muktamar Semarang ini walaupun kemampuan KH. Idham Chalid dipertanyakan dengan beberapa kasus selama satu dekade NU semakin termarginalkan dan PBNU tidak bisa berbuat apa-apa. Kondisi ini semakin membawa dampak buruk bagi NU. Tetapi akhirnya KH. Idham Chalid terpilih kembali menjadi Ketua PBNU mengalahkan KH. Ahmad Saichu.

Wafatnya KH. Bisri Syamsuri (tokoh pendiri NU yang terakhir meninggal) pada tahun 1980 membawa dampak luar biasa di lingkungan NU. Di mana NU selamat tiga dekade memang dipimpin oleh orang yang sangat kharismatis KH. Wahab Hasbullah (1950-an – 1960-an awal) dan KH. Bisri Syamsuri (1960 pertengahan-1980).

One thought on “Khittah NU 1926

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s