Pondok Pesantren : Karakteristik dan Fungsinya

Keberadaan pondok pesantren dan masyarakat merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling mempengaruhi. Sebagian besar pesantren berkembang dari adanya dukungan masyarakat, dan secara sederhana muncul atau berdirinya pesantren merupakan inisiatif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Begitu pula sebaliknya perubahan sosial dalam masyarakat merupakan dinamika kegiatan pondok pesantren dalam pendidikan dan kemasyarakatan.

Berdasarkan kondisi pesantren yang sedemikian rupa, maka konsep pesantren menjadi cerminan pemikiran masyarakat dalam mendidik dan melakukan perubahan sosial terhadap masyarakat. Dampak yang jelas adalah terjadi peruahan orientasi kegiatan pesantren sesuai dengan perkembangan masyarakat. Dengan demikian pondok pesantren berubah tampil lembaga pendidikan yang bergerak dibidang pendidikan sosial. Bahkan lebih jauh daripada itu pesantren menjadi konsep pendidikan sosial dalam masyarakat muslim di desa maupun di kota.

Tipologi Pondok Pesantren

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman, terutama sekali adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan bentuk pesantren bukan berarti sebagai pondok pesantren yang telah hilang keikhlasannya. Dalam hal ini pondok pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk masyarakat.

Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat, yang meliputi :

  1. Pondok Pesantren Tradisional

Pondok pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 dengan menggunakan bahasa arab. Pola pengajarannya dengan menerapkan sistem “halaqah” yang dilaksanakan di masjid atau surau. Hakekat dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Artinya ilmu itu tidak berkembang ke arah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang diebrikan oleh kiyainya. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kiyai pengasuh pondoknya. Santrinya ada yang menetap di dalam pondok (santri mukim), dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalong).

2. Pondok Pesantren Modern

Pondok pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini tertuama namapak pada penggunaan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa itu. Kedudukan para kiyai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar dan sebagai pengajar langsung di kelas. Perbedaanya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.

3. Pondok Pesantren Komprehensip

Pondok pesantren ini disebut komprehensip karena merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan wetonan, namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan keterampilan pun diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi kesatu dan kedua. Lebih jauh daripada itu pendidikan masyarakat pun menjadi garapannya. Dalam arti yang sedemikian rupa dapat dikatakan bahwa pondok pesantren telah berkiprah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.

Ketiga tipe pondok pesantren diatas memberikan gambaran bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan sekolah, luar sekolah dan masyarakat yang secara langsung dikelola oleh masyarakat dan bahkan merupakan milik masyarakat karena tumbuh dari dan oleh masyarakat. Lembaga pendidikan sekolah sesuai dengan pengertian sekolah pada umumnya. Sebagai lembaga pendidikan luar sekolah nampak dari adanya kegiatan kependidikan baik dalam bentuk keterampilan tangan, bahasa maupun pendalaman pendidikan agama islam yang dilaksanakan melalui kegiatan sorogan, wetonan dan bandongan bahkan kegiatan pengajian yang dilaksanakan oleh paraa kiyai dalam pondoknya. Sedangkan sebagai lembaga pendidikan masyarakat terlihat dari kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan oleh pondok pesantren dalam mengikuti perkembangan masyarakat lingkungannya.

Dimensi kegiatan sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pesantren itu bermuara pada suatu sasaran utama yakni perubahan, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karena itu pondok pesantren dapat juga dikatakan sebagai agen perubahan artinya pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang mampu melakukan perubahan terhadap masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s